Stop Pacaran and Sex Before Married, Avoid to Abortion

Sudah barang umum jika remaja kini berpacaran melebihi batas kewajaran. Tak segan mereka memadu kasih dengan cara yang sangat dilarang oleh agama. Tidak memikirkan akibat yang akan timbul melainkan hanya menikmati kenikmatan sesaat. Ujung-ujungnya sepercik air sperma yang menuju rahim membentuh segumpalan darah, daging hingga membentuk sebuah organ dan seterusnya. Mulai itulah muncullah sebuah penyesalan dan malu akan lingkungan. Dan tidak ada pilihan lain untuk  mempertanggungjawabkan tingkah lakunya dengan menikah atau menggugurkan kandungan alias aborsi.

Janin

Dari peristiwa tadi seorang alumni dari Pondok Al-Islam menulis sebuah catatan disebuah forum yang berjudul “Surat dari Anak yang Diaborsi” dengan isi sebagai berikut :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Teruntuk Bundaku tersayang…

Dear Bunda…

Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja…nanda juga di sini baik-baik saja bunda… Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda….

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat…

Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda….badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik… dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.

Tapi nanda tidak kecewa kok bunda… karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.

Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang… kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram… anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah… Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.

Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget… nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu

Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda…minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya…yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.

Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya…di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ…. nanda sayang bunda… nanda kangen dan ingin bertemu bunda… nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga… nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu…

Lalu, dengan lembut malaikat berkata… nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka… sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda…. Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha… bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini… nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh… nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda… antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu… tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.

Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya…. biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda…jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.

Sudah dulu ya bunda… nanda mau main-main dulu di syurga…. nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini… nanda sayang banget sama bunda….muach!
—————————————-​——
STOP PACARAN and SEX BFORE MARRIED…
AVOID to ABORTION…!!!

Itulah sebuah ilustrasi pemikiran dari tindakan yang sanggup menghilangkan nyawa dari sebuah makhluk. Namun sebenarnya aborsi bukan hanya sebuah tindakan bodoh yang dilakukan oleh remaja akibat tindakan salah kaprah mereka, namun terdapat sisi lain dari tindakan ini seperti yang dikemukakan oleh Kak Siti Habibah Jazila alumni Al-Islam Joresan tahun 2009.

Saya berfikir beberapa hari sebelum memutuskan mengomentari postingan link ini krn khawatir disalahpahami. saya memutuskan berkomentar karena merasa sangat ‘terganggu’ dengan perspektif yang digunakan dalam tulisan ini dalam melihat persoalan aborsi. Bagi saya sangat tidak adil melihat persoalan berdasarkan asumsi semata. Persoalan aborsi sering kali dikaitkan dengan prilaku seks bebas di kalangan remaja. Ternyata banyak penelitian membuktikan dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Penelitian mengenai aborsi yang diselenggarakan pada periode 70-an menemukan bahwa ternyata pelayanan aborsi juga dicari oleh perempuan menikah yang tidak menginginkan tambahanan anak tetapi tidak mengunakan kontrasepsi atau mengalami kegagalan kontrasepsi (Affandi, Herdjan dan Darmabrata, 1979; Sastrawinata, Agoestina dan Siagian, 1976). Pola ini tidak berubah di era 90-an, seperti ditunjukkan pada sebuah penelitian di Bali di mana 71% perempuan yang melakukan aborsi berstatus menikah (Dewi 1997:33). Demikian pula penelitian yang diselenggarakan oleh Population Council pada tahun 1996-1997 di klinik swasta dan klinik pemerintah menunjukkan 98,8% klien merupakan perempuan menikah dan telah punya 1-2 orang anak (Herdayati 1998).

Saya sendiri pernah bekerja di isu kesehatan reproduksi di beberapa daerah terpencil di Yogyakarta dan menemui fakta bahwa banyak ibu-ibu rumah tangga yang memutuskan melakukan aborsi karena beban ekonomi (sudah terlalu banyak anak). Mereka sudah memakai kontrasepsi tetapi krn tidak adanya informasi yang memadai mengenai alat-alat kontrasepsi dari petugas kesehatan banyak yang mengalami gagal kontrasepsi.

Di kalangan remaja tentu juga ada kasus aborsi karena kehamilan tidak diinginkan. Tapi mari juga melihat persoalan ini secara lebih luas. Kurangnya informasi tentang resiko berhubungan seksual yang bisa berakibat pada kehamilan juga ikut berkontribusi atas kasus aborsi di kalangan remaja. Dan lagi-lagi pihak perempuan yang dianggap menjadi pihak ‘paling berdosa’, disaci dan disalahkan. Di kabupaten tempat saya pernah bekerja untuk persoalan kesehatan reproduksi, sangat banyak kasus kehamilan tidak diinginkan di kalangan anak usia sekolah berujung pada dikeluarkannya siswi yang hamil dari sekolah tetapi tidak dengan siswa yang menghamilinya. Orang tua dan guru juga seolah lepas tanggung jawab soal ini, seolah2 ini adalah 100% kesalahan si pelajar.

Maret lalu saya mendampingi seorang korban perkosaan yang akhirnya hamil. Di saat depresi luar biasa dia harus menghadapi fakta bahwa dia hamil akibat perkosaan tersebut. Setelah counseling beberapa lama dia akhirnya memutuskan untuk aborsi. Bersyukur bahwa UU Kesehatan kita saat ini telah membolehkan aborsi akibat perkosaan meski banyak yang masih harus dikritis dari UU yang ada tersebut. Tapi tentu tidak semudah itu jalan yang harus dilalui korban. Di saat dia masih dalam trauma akibat perkosaan dia harus menghadapi ‘penghakiman’ dokter yang begitu menyakitkan. Si dokter sempat2nya mengatakan: “kamu menikmatinya ya? Ga mungkin klo nggak kamu bisa hamil”. Sudah sekian banyak cerita yang saya serap dari sekian korban baik secara langsung maupun dari teman-teman saya yang berprofesi sebagai konselor yang membuat saya semakin marah dengan perspektif sebagian besar dokter yang alih-alih punya simpati dan empati malah menyalahkan si korban.

Saya hanya ingin mengingatkan kita semua utk tidak lupa mengingatkan tanggung jawab negara juga terhadap warganya dan tidak hanya menghujat perempuan berdasarkan asumsi. Banyaknya kasus aborsi di kalangan ibu rumah tangga karena alasan ekonomi adalah bukti nyata kemiskinan struktural; kurangnya informasi dan layanan tentang kesehatan reproduksi juga bukti nyata dari ketidakadilan negara. Sebagai seorang muslim saya hanya ingin mengajak teman2 utk membaca/iqra’ sebagaimana diajarkan oleh al-Qur’an: membaca fakta secara lebih bijak, membaca ketidakadilan dan melakukan upaya meskipun sangat kecil untuk turut andil dalam upaya-upaya menuju keadilan dan kesejahteraan. Bagi saya dengan menghakimi seseorang berdasarkan asumsi adalah juga ketidakadilan yang nyata. Selamat berefleksi dan salam persaudaraan. Bibah, alumni 1999.

Ini Opini mereka, Bagaimana dengan opini anda?

Post Author: Reza Saputra

1 thought on “Stop Pacaran and Sex Before Married, Avoid to Abortion

    aksesoris hp

    (October 9, 2012 - 2:18 pm)

    Yang jelas zina beserta sarana yang mengantarkan ke sana (pacaran,dll) diharamkan dalam agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 10 + 14 ?
Please leave these two fields as-is: